Refleksi
kuliah pertama Etnomathematics dengan Prof. Dr. Marsigit
oleh
Annisa
Nur Arifah
13301241011
Pendidikan
Matematika A 2013
Etnomathematics
dan Budaya Pendidikan
Etnomathematics termasuk ranah
inovasi, reformasi, dan juga research. Orang yang peduli dengan Etnomathematics
berarti peduli terhadap inovasi dan research dalam bidang pendidikan serta
pengambangan perangkat pembelajaran, sumber belajar dll. Orang yang tidak
peduli dengan Etnomathematics berarti tidak perlu macam-macam, dalam mengajar
cukup dengan ceramah, memperhatikan, ceramah tidak berkembang dan tidak
memerlukan research atau dengan kata lain tidak memerlukan Etnomathematics. Dalam
mempelajari Etnomathematics terdapat unsur pendukung yaitu perubahan mindset
atau paradigma.
Perubagan
mindset bisa simpel namun bisa juga rumit, simpel ketika metode yang digunakan
dari konvensional menuju inovatif. Konvensional mempunyai ciri-cirinya
menggunakan metode ceramah, tunggal, orientasi pada guru, paradigma transfer of
knowlage, siawa pasif, dan sumber-sumber terbatas. Sedangkan inovatif atau
pembaruan ciri-cirinya student center, metode pembelajaran berfariasi dan
fleksibel, siswa aktif dan kreatif, fariasi media, sumber belajar, dan
penilaian.
Pengertian
Etnomathematics menurut D'Ambrosio : “Ethnomathematics is used to express the
relationship between culture and mathematics” (D’Ambrosio, 2001: 308, dalam
Heron & Barta, 2009 : 26). Oleh karena itu kendala-kendala dalam
mempelajari Etnomathematics yaitu pertama, karena merupakan produk dari budaya.
Menurut Heron & Barta : "Culture is viewed as a group’s or person’s
dialect, geographical locale, or views of the world rather than a restricted
view that is solely focused on a group’s artifacts or a person’s ethnicity"
(Heron & Barta, 2009: 26- 27). Maka budaya dapat dilihat dari
tontonan-tontonan di televisi yang lebih kearah konvensional sehingga membuat
intusi kita juga kearah konvensional. Kedua, sistem pendidikan yang terpusat,
dikendalikan negara atau politisi sehingga pendidikan dijadikan icon. Akibatnya
keberhasilan dalam pendidikan selalu ingin ditampilkan. Padahal pendidikan
mempunyai sifat jangka panjang seperti dalam membangun kreatifitas dibutuhkan
waktu sekitar 10-15 tahun. Karena pendidikan masuk ke ranah politik, dalam 5
tahun penjabatan para politisi seperti manteri atau gubernur mereka ingin
menunjukan bahwa mereka bisa membuat sesuatu. Pak menteri bisa membuat monumen
pendidikan berupa kurikulum misalnya Kurikulum 2013. Tetapi ternyata ketika
pergantian menteri, menteri yang baru acuh tak acuh terhadap menteri yang sebelumnya.
Inilah pendidikan tersentralisasi yang mudah dikelola, dikontrol, dan
diarahkan.
Saat
dunia mengalami krisis ekonomi, sebagian negara mengancangkan pendidikannya.
Contoh, di Inggris sistem pendidikannya desentralisasi. Guru mempunyai otonomi
namun sekolah juga mempunyai otonomi. Karena ekonomi global atau persaingan
global sistem pendidikannya berubah menjadi sentralisasi. Dari sisi perlindungan
ke anak didik mengalami kemunduran karena kebebasan siswa bisa dijamin kalau
sistem pendidikannya desentralisasi. Dalam sistem pendidikan sentralisasi,
sekolah sudah menjadi pelaksana kebijakan negara atau pemerintah. Seperti di
Indonesia kebijakannya berupa Ujian Nasional ( UN ) maka semua sekolah
melaksanakan UN. Kalau UN sebagai icon maka semua kegiatan atau apapun
diarahkan untuk keberhasilan UN, baik halal maupun haram. Bahkan akan mungkin
seorang guru akan berbuat curang atau kepala sekolah berani berbuat salah agar
sekolahnya mendapat predikat baik atau ranking yang tinggi. Dari guru turun ke
siswa yang turut berorientasi ke UN. Akibatnya metode mengajar yang favorit
adalah menyelesaikan soal, ini tidak memerlukan Etnomathematics.
Apabila
menggunakan Etnomathematics, kita sudah seharusnya mempunyai wajah multifaset,
hidup tidak semata-mata berorientasi pada UN saja namun juga pada mathematika
education is di seluruh dunia, mengikuti seminar, melakukan research, membaca
jurnal, dll. Dengan Etnomathematics kita mempunyai perspektif yang lebih luas.
Bahkan kalau S2 atau S3, ini menjadi dasar dari pengembangan pendidikan
matematika tingkat dunia, tidak sekedar lokal atau menurut pada pemerintah
saja. Perkara UN sebagai kebijakan nasional, sebagai guru harus mengikuti,
tidak bisa tidak. Tetapi tidak ada salahnya jika tidak hanya fokus pada
penyelesaian soal, karena pendidikan bukan sekadar trik menyelesaikan soal.
Etnomathematics membedakan kita dengan orang lain. Ini semua merupakan Etnomathematics
dari sisi kedudukan. Etnomathematics merupakan perspektif global, research
global.
Etnomathematics
sangat mengasikan, hanya orang-orang yang tidak mau masuk kepada stylenya yang
akan mengalami kesulitan. Karena dalam Etnomathematics terdapat unsur sosial
dan metode kualitatif. Orang-orang matematika murni yang lebih memakai logika
akan kesulitan. Selain itu Etnomathematics mengandung aspek budaya.
Di
sini, yang diperlukan adalah perubahan paradigma, setelah itu penyelesaian
tindakan atau sikap dan perilaku. Dalam ilmu sosial dan psikologi perilaku ada
yang sifatnya kontradiktif, cara diantara iya dan tidak, kompromistis,
menunggu, sampai menunggu ketidakjelasan. Sehingga apabila Etnomathematics
diangkat menjadi tema, terdapat unsur-unsur pendukung yaitu landasannya itu
sendiri yang disebut dengan budaya. Jadi Etnomathematics yang diangkat disini
merupakan pengembangan perangkat pembelajaran berbasis budaya. Pendukung yang
lain adalah bahasa, keterampilan bahasa. Bahasa selaras danga psikologi/pendidikan/belajar/mengajar/perangkat
pembelajaran. Dirangkum dalam Etnomathematics, pendekatannya dengan menggunakan
hermenitika yang bahasa singkatnya yaitu terjemah dan menterjemahkan atau
metode hidup. Semua kegiatan dalam kehidupan pasti melakukan penerjemahan.
Metode ini merupakan metode yang paling kontologis dalam urusan dunia. Tidak
ada metode yang lebih mendasar/ hakiki dari pada metode hidup. Metode tanya
jawab, metode ceramah, dan sebagainya merupakan bagian dari metode hidup.
Karena
Etnomathematics menggunakan hermenitika, sangat memungkinkan menggunakan metode
yang selaras, antara lain yang pertama adalah pendekatan rmatematika realistik.
Realistic mathematics education, yang diterjemahkan sebagai pendidikan
matematika realistik (PMR), merupakan
sebuah pendekatan belajar matematika yang dikembangkan sejak tahun 1971 oleh
sekelompok ahli matematika dari Freudenthal Institute, Utrecht University di
Negeri Belanda. Pendekatan ini didasarkan pada anggapan Hans Freudenthal (1905
– 1990) bahwa matematika adalah kegiatan manusia. Menurut pendekatan ini, kelas
matematika bukan tempat memindahkan matematika dari guru kepada siswa,
melainkan tempat siswa menemukan kembali ide dan konsep matematika melalui
eksplorasi masalah-masalah nyata. Maka dalam pendekatan matematika realistik
terdapat empat tingkatan yaitu :
1. benda
konkret;
2. model
konkret;
3. model
formal;
4. matematika
formal.
Matematika
konkret kita gali menggunakan Etnomathematics. Lalu yang kedua ada cooperative
learning. Slavin (dalam Rusdi ,1998) mendefinisikan cooperative learning
sebagai suatu pendekatan pembelajaran ,dimana siswa bekerja dalam suatu
kelompok yang heterogen , yang anggotanya terdiri dari empat atau enam orang.
Melalui kelompok tersebut mengamati benda bersama-sama, karena unsur dasar Etnomathematics
adalah artifacts (benda konkret). Artifacts ada yang bersifat gagasan atau ide
berupa sastra, misalnya di keraton artefaknya berupa gending jawa.
Daftar Pustaka
Suwarsono, St.
"Etnomatematika (Ethnomathematics)". 14 Februari 2016.
https://www.usd.ac.id/fakultas/pendidikan/s2_pen_matematika/f1l3/Slides%20ppt%20Etnomatematika.pdf
(
Sumardi, HB.
" Hasil Penilaian Cooperatif Learning". 15 Februari 2016.
Hartono,
Yusuf."Pendekatan Matematika Realistik". 15 Februari 2016.
Ethnomathematics, nggak sekedar belajar tapi juga jalan jalan huahahahaha
BalasHapus